Showing posts with label TechNet. Show all posts
Showing posts with label TechNet. Show all posts

Google Gelontorkan USD 2 Juta Untuk Nafkahi Hacker?

Google memang baik hati, selain penyedia layanan gratis terbesar dunia ternyata Google mampu memberikan perhatian kepada orang-orang memiliki kemapuan lebih di dunia IT seperti Hacker hehehe.

Meskipun memiliki sumber daya yang sangat besar, tak serta merta membuat berbagai layanan Google luput dari kesalahan. Oleh karenanya, Google pun giat mengajak publik untuk menemukan kesalahan ini lewat berbagai sayembara.

Bahkan, seperti yang dilansir oleh The Next Web (12/8), Google pun tak main-main dalam mengadakan sayembara ini. Dalam tiga tahun terakhir saja, Google sudah menggelontorkan dana sebesar USD 2 juta.

Semua dana ini diberikan kepada 2 ribu pelapor masalah keamanan dalam layanan Google. Dana ini diberikan sebagai bentuk terima kasih Google kepada publik yang telah membantu mereka menemukan celah dalam layanannya.

Dari angka USd 2 juta ini, sekitar USd 1 juta diberikan dalam sayembara Chromium VRP dan Pwnium. Sementara, USd 1 juta lainnya disebarkan dalam program Google Web VRP.

Melihat adanya jumlah ini, Google sendiri menganggapnya sebagai sebuah kesuksesan. Oleh karenanya, raksasa internet ini pun menaikkan hadiah yang semula USD 1000 per temuan celah menjadi USD 5 ribu per temuan.

"Kami akan mengumumkan kenaikan hadiah untuk lubang yang bisa membahayakan pengguna, dan ketika peneliti mampu memberikan analisis akurat mengenai sisi eksploitasi dan bahayanya," jelas Google.

Selain Google sendiri sebenarnya banyak raksasa internet yang juga melakukan hal serupa. Tercatat, Facebook, Microsoft, hingga Mozilla pun menawarkan hadiah sejumlah uang bagi mereka yang mampu menemukan celah dalam layanan mereka.

Apa yang mereka lakukan ini sebenarnya bisa dibilang merupakan upaya untuk memberdayakan hacker. Dengan begitu, hacker yang selama ini dicap negatif bisa dimanfaatkan ilmunya ke arah yang lebih baik.

 Sumber: Merdeka.com

Efek Internet dan Orang Kaya Baru

Belum lama ini, majalah Forbes kembali merilis peringkat orang-orang kaya sejagat. Yang menarik tahun ini, munculnya Robin Li sebagai manusia terkaya di China. Dia juga menjadi satu-satunya orang kaya China yang berhasil menyodok ke jajaran elite “Top 100″ dunia.

Robin Li bukanlah juragan tembakau atau kelapa sawit sebagaimana para taipan asal Indonesia. Kekayaannya bersumber dari Baidu, mesin pencari internet asli buatan China. Di negara tersebut, Baidu sukses menjungkalkan dominasi Google. Hasilnya manis, pundi-pundi kekayaan Li ikut menggelembung menjadi 9,4 miliar dollar AS tahun ini.

Internet telah melahirkan banyak orang kaya baru di dunia. Di papan atas, selain duet Sergei Brin dan Larry Page pendiri Google, ada juga Mark Zuckerberg dan kawan-kawan yang membesarkan Facebook. Kadang-kadang, membaca kisah mereka tak ubahnya sebuah dongeng. Kaya raya dalam tempo relatif singkat, di usia masih muda, dan tak kalah penting, kekayaan itu bukanlah berasal dari warisan.

E-commerce dan Periklanan
Setelah ambruk dekade lalu, perusahaan teknologi berbasis internet kini menjadi primadona kembali. Para investor berlomba membenamkan modal dalam jumlah besar. Harapannya, apalagi kalau bukan, ikut terkerek menjadi warga kaya dunia dalam waktu singkat.

Google yang didirikan tahun 1996, memberikan bukti akan hal itu. Saham perdananya ditawarkan seharga 85 dollar AS per lembar pada 2004. Kini, sahamnya diperjualbelikan di kisaran 570 dollar AS. Jika dibandingkan dengan Garuda Indonesia, maskapai bintang empat yang telah menerbangi dunia selama puluhan tahun itu, nilai sahamnya tersebut barangkali ibarat bumi dan langit.

Dari mana Google mencari laba? Biasanya, tak banyak disadari pengguna awam, pendapatan Google sebenarnya diperoleh dari iklan kontekstual di bagian atas dan samping mesin pencarinya. Tahun lalu, raksasa mesin pencari ini membukukan pendapatan sebesar 30 miliar dollar AS, dengan komposisi 90 persen lebih diperoleh dari periklanan tersebut.

Selain penempatan iklan di halaman hasil pencarian dan beragam aplikasi yang mereka sediakan, Google juga bekerjasama dengan pihak ketiga untuk menayangkan iklan serupa. Kini, sulit menemukan situs online, media besar atau sekedar blog, tanpa disisipi iklan milik jaringan Google. Kerjasama ini pula, seperti ditulis laporan khusus Kontan, telah menciptakan “orang kaya baru” di Indonesia dengan penghasilan hingga ratusan juta rupiah per bulan dari internet.

Selain dari kue periklanan, internet juga menawarkan “jalan pintas” untuk kaya lewat jalur ecommerce. Jeff Bezos yang merintis toko online Amazon, merupakan salah satu legenda hidupnya. Sangat beruntung, dia menjadi orang terkaya dunia ke-30 tahun ini.

Kondisi Lokal
Indonesia kini sedang menanti orang kaya baru yang lahir dari rahim internet. Orang kaya baru yang menggali kekayaan dengan tidak meracuni rakyat pelan-pelan dengan rokok, tidak membabat hutan dan merusak perut bumi.

Benih-benihnya sudah tampak, seperti bermunculannya banyak perusahaan baru –biasa disebut start up– yang menawarkan berbagai aplikasi dan layanan berbasis web. Salah satu yang membuat gebrakan adalah Koprol.com, situs jejaring sosial lokal berbasis lokasi. Sayangnya, situs ini kemudian dicaplok Yahoo! sehingga memupus harapan menjadi sebuah brand lokal yang mandiri dan kuat dengan menggandeng investor baru.

Meski tidak terlalu ingar bingar, pertarungan berebut tahta yang terbesar di internet juga sedang terjadi. Telkom lewat anak perusahaannya sedang tertatih-tatih memoles ulang Plasa.com, sedangkan Grup MNC menggandeng situs ecommerce terbesar di Jepang, Rakuten. Opsi membesarkan beberapa start up lokal di jalur ecommerce agaknya kurang menarik perhatian kedua perusahaan besar ini.

Meski memiliki potensi yang besar, namun pasar internet dan lingkungan bisnis di negeri ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, karena masih didominasi “konsumen 140 karakter”. Penetrasi internet yang relatif cepat ditengarai terutama disokong oleh maraknya penggunaan telepon seluler untuk mengaksesnya. Akibatnya, Facebook dan Twitter begitu digandrungi, tetapi telepon seluler jelas kurang nyaman untuk melakukan transaksi online.

Kedua, masih rendahnya trust di dunia maya. Meski ada belasan juta pemilik kartu kredit, namun penggunaannya untuk transaksi online masih belum memasyarakat karena banyak orang masih khawatir dengan keamanannya. Akibatnya, meski kurang praktis, pembayaran lewat transfer bank masih menjadi pilihan yang dianggap lebih aman dalam bertransaksi.

Ketiga, kurang tersedianya modal ventura. Agaknya, “dot com bubble” yang terjadi satu dekade lalu belum sepenuhnya punah dari ingatan para pemilik modal. Keterbatasan modal menyebabkan banyak gagasan segar tidak bisa tumbuh dan dikembangkan secara optimal.

Meski terdapat faktor kontrol internet oleh pemerintah China, namun keberhasilan Robin Li jelas membuktikan, konteks lokal seperti perbedaan bahasa dapat dijadikan kekuatan untuk membangun sekaligus mematahkan dominasi mesin pencari dan situs jejaring sosial yang beroperasi global. Alhasil, belajarlah sampai ke negeri China untuk menjadi orang kaya baru di era internet.

Sumber: KOMPASiana

Asal Usul Nama Google dan Fakta Unik Lainnya

Asal Usul Nama Google dan Fakta Unik Lainnya
Ada banyak cerita dan pemberitaan media yang menarik seputar Google. Namun ternyata, masih ada fakta-fakta unik yang belum diketahui oleh banyak orang tentang perusahaan tersebut. Fakta-fakta tersebut ditampilkan dalam situs tanya jawab Quora. Berikut beberapa fakta unik yang menarik.

Nama Google lahir karena "kecelakaan". Sejarah Google dimulai dari proyek yang dikerjakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada 1996. Saat itu, kedua mahasiswa pascasarjana di Stanford University itu berkolaborasi mengembangkan mesin pencari bernama BackRub, yang dioperasikan menggunakan server di kampus mereka.

Pada 1997, Larry dan Sergey mengganti nama BackRub menjadi Googol. "Googol" merupakan istilah matematika untuk angka 1 yang diikuti oleh 100 angka nol. Nama ini diambil untuk menjelaskan misi Google sebagai gudang informasi tak terbatas di internet.

Akan tetapi, para investor rupanya salah mengeja nama Googol menjadi Google, dan telanjur menuliskannya dalam cek. Hal itu membuat Brin dan Page akhirnya "mentok" menggunakan nama Google untuk mesin pencari mereka.

Google merupakan salah satu perusahaan digital yang gencar mengakuisisi startup yang berpotensi. Di antaranya, YouTube, Android, Motorola Mobility, Pyra Labs yang mengembangkan Blogger, serta Keyhole Inc yang melahirkan layanan Google Maps dan Google Earth.

Hingga kini, sudah ada ratusan startup (perusahaan rintisan) yang diakuisisi oleh Google. Sejak 2010, jika dirata-rata, maka Google telah mengakuisisi lebih dari satu perusahaan setiap minggu.

Halaman muka Google tampil bersih sejak kali pertama beroperasi karena dulu kedua pendirinya tidak menguasai HTML. Page dan Brin juga menginginkan mesin pencari dengan antarmuka yang ringkas. Karena itu, pencarian melalui Google dibuat sederhana. Pengguna cukup menekan tombol Enter setelah memasukkan kata kunci pencariannya.

Hingga kini, tampilan homepage Google yang bersih, hanya menampilkan logo dan kotak pencarian, tetap dipertahankan.

Masih ada fakta-fakta menarik lainnya. Indeks pencarian Google memiliki ukuran raksasa, yakni lebih dari 100 juta gigabyte. Dengan kata lain, butuh lebih dari 100.000 hard disk personal berukuran 1 terabyte untuk menyimpan indeks pencarian itu.

Untuk menampilkan informasi pada aplikasi Street View yang merupakan bagian dari Google Maps, jika ditotal, maka Google telah memotret jalan sepanjang 5 juta mil atau 8,046 juta km.

Pada tahun 2012, Google telah menemukan lebih dari 30 triliun URL unik di web. Coba bandingkan dengan jumlah URL unik pada tahun 2008, yang hanya berjumlah 1 triliun!

Satu lagi fakta unik tentang Google. Perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan digital paling besar dan paling penting di dunia. Namun ternyata, masih ada kesalahan kode di halaman muka Google. Kalau tidak percaya, sila cek tautan ini.

Sumber: Kompas.com

Bos Apple: Hubungan Kami dengan Samsung Aneh

Bos Apple: Hubungan Kami dengan Samsung Aneh
Samsung dan Apple memang saling gugat di pengadilan, namun hubungan keduanya memang unik. Sebab sampai kini, Apple masih mengandalkan berbagai komponen besutan Samsung di gadgetnya.

"Hidup kadang-kadang adalah sesuatu yang kompleks dan benar bahwa (hubungan dengan Samsung) itu aneh," kata CEO Apple, Tim Cook dalam wawancara dengan Bloomberg.

Cook menyatakan bahwa sebenarnya dia benci melakukan gugatan paten pada Samsung dan juga vendor lain. Sayangnya, tidak ada pilihan lain.

"Apa yang kami inginkan, di dunia yang sempurna, adalah setiap orang menemukan bendanya sendiri. Kami menyukai kompetisi. Namun kami ingin agar orang-orang memiliki ide dan penemuan sendiri," kata Cook.

Dilansir BGR dan dikutip detikINET, Jumat (7/12/2012), Cook menampik bahwa gugatan hukum membuat Apple dan Samsung tidak bisa lagi bekerjasama. Sebab, Apple telah lama berpengalaman bermitra dengan pesaingnya.

"Selama bertahun-tahun kami bekerjasama dengan mereka yang juga berkompetisi dengan kami. Microsoft contohnya. Mereka mengembangkan Office, jadi mereka partner developer, namun mereka juga adalah kompetitor," ucap pria berkacamata ini.

Sumber: Detik.com

Pria Las Vegas Ini Jadi Kambing Hitam Kesalahan GPS

Kejadian unik dialami oleh seorang warga asal Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Pria yang diketahui bernama Wayne Dobson tersebut selalu dikambinghitamkan jika ada pelanggan salah satu operator AS mengalami kehilangan ponsel. Lho kok?

Terdengar aneh memang, namun kenyataannya pria berumur 59 tahun tersebut telah beberapa kali didatangi pelanggan operator seluler Sprint yang mengaku kehilangan ponsel miliknya.

Saat ditanya mengapa mendatangi dirinya, para pelanggan tersebut mengaku mendapatkan koordinat lokasi ponselnya yang hilang melalui layanan GPS yang ditawarkan oleh Sprint.

Celakanya, seperti dikutip dari Cnet, Kamis (17/1/2013), karena hal ini para pelanggan yang kehilangan ponselnya kerap menuduh Dobson menyembunyikan ponsel mereka di rumahnya. Meski kecil kemungkinannya, diduga ini terjadi akibat terjadinya kesalahan pada sistem layanan GPS yang digunakan oleh Sprint.

"Kami akan meneliti masalah secara menyeluruh dan mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan jika ada hubungannya dengan perusahaan kami," ucap Rachel Crocker selaku juru bicara Sprint.

Bagi Dobson, masalah ini sudah sangat mengganggunya. Terakhir kali, dia harus terbangun pada pukul 02.00 dini hari hanya karena berurusan dengan orang yang kehilangan ponsel.

Waduh, sepertinya Dobson harus berpikir untuk rencana pindah rumah agar mendapatkan kembali kehidupannya yang tenteram.

Sumber: Detik.com